Bersabarlah Jakartaku...
Disini
saya mengajak para pemilih dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017,
Pilkada
DKI Jakarta 2017 yang sedang berlangsung kini sudah memasuki tahapan putaran
kedua yang mana merupakan penentuan siapa yang akan menduduki kursi nomor satu
di DKI Jakarta periode 2017-2022. DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara ini mau dibawa
kemana kedepannya jika pemimpinnya tidak amanah dan hanya bisa melontarkan
janji-janji murahan yang sudah menjadi tradisi pencitraan setiap ajang
pemilihan kepala daerah di Indonesia. Putaran kedua yang menyediakan dua calon
pemimpin masa depan dari Ibukota Indonesia menjadi aktor dalam popularity war yang dilakukan berbagai
media. Menjelang putaran kedua yang kian memanas, beberapa media pun kini tidak
netral lagi seiring dengan sangat terang benderang mendukung salah satu calon
gubernur. Kampanye hitam juga deras bergulir, terutama di media sosial. Belum lagi permasalahan yang sudah menumpuk dari para leluhur Gubernur DKI
Jakarta sebelumnya menjadi kambing hitam kepada
calon gubernur petahana.
Kedudukan
Jakarta yang notabene kota metropolitan menjadi sorotan masyarakat Indonesia
bahkan dunia Internasional. Bagaimana tidak daerah yang memiliki segudang kegiatan
dan dinamika lingkungan strategis yang sangat cepat memegang andil yang besar
terhadap perspektif global kepada Indonesia terutama dari segi kehidupan
politik. Hal inilah yang akan ditentukan melalui Pilkada Gubernur dan Wakil
Gubernur DKI Jakarta yang sudah berlangsung dan sekarang menyisakan 2 calon
kuat untuk memperebutkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode
2017-2022. Seperti pendahulu-pendahulunya Pilkada DKI Jakarta ini selalu
menyajikan para calon yang memang memiliki kemampuan dan ciri khas
masing-masing pasangan calon. Dengan diiringi kontroversial yang selalu mendampingi
calon pasangan.
Pada
putaran pertama kemarin Pilkada DKI Jakarta di hebohkan dengan bertubi-tubinya
pemberitaan yang menjatuhkan salah satu pasangan dimasa mendekati pemilihannya.
Bagaikan angin puting beliung yang tiba-tiba datang menimpa pasangan calon
nomor urut 1 AHY-Silvi, yang menyudutkan dan membuat elektabilitas terjun bebas
secara drastis. Membuat pandangan masyarakat berubah dan beralih kepada
pasangan lain. Strategi yang mungkin jitu dilakukan oleh calon pasangan lain, tetapi
ini bukan menjadi patokan ataupun prejudice
yang ditujukan kepada salah satu
pasangan calon. Karena semua bisa saja terjadi didunia politik.
Dampak
yang akan terjadi bisa saja membuat
masyarakat pendukung yang salah satu calon yang mendapatkan informasi miring
seperti yang terjadi pada putaran pertama tersebut, akan menjadi gemericik api
yang akan menyulut besar perpecahan dalam masyarakat menjelang putaran kedua.
Perlu adanya masyarakat yang cerdas dengan bagaimana menyaring setiap informasi
yang beredar pada masyarakat. Bagaimana dapat menganalisa suatu permasalahan
dan mengambil keputusan yang memang diharuskan menjadi informasi yang berguna. Berita
hoax alias fabrikasi yang saat ini semakin meluas yang dapat menyudutkan
pasangan calon akan membuat masyarakat mudah sekali mempercayainya. Inilah yang
salah pada masyarakat Indonesia, mudah sekali diadu domba dengan informasi yang
beredar tanpa terlebih dahulu cross check
kebenarannya.
Pada
Pilkada DKI Jakarta putaran kedua ini masih ada saja berita hoax yang beredar.
Berita hoax yang beredar di masyarakat merupakan upaya oknum tertentu demi
keuntungan kelompok, tetapi tidak tahu dampak yang akan terjadi pada
masyarakat. Pendukung calon yang merasa dirugikan akan menuntut bahkan
terjadinya bentrok antar pendukung yang akan menimbulkan keresahan masyarakat.
Sentimen isu SARA dan doktrinisasi pemimpin kafir
sudah menuju titik klimaks dengan maraknya berbagai aksi akan tetapi respon
masyarakat sudah menunjukkan resistensi. Maka dari itu perlu adanya generasi
pemilih yang harus cerdas saat memilih calon pemimpin dalam putaran kedua mendatang. Salah satunya
dengan memperhatikan dan mempelajari jejak rekam calon pemimpin yang akan
dipilih nantinya. Menjadi pemilih cerdas, dengan pelajari track record calon
yang akan dipilih. Apakah bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat atau tidak?
Mudah-mudahan,
tulisan saya ini dapat menambah wawasan kita semua dan mengunggah batin untuk
menelusuri track record para kandidat. Sekali lagi, janganlah tergiur
dengan janji/slogan. Konsistensi dan implementasi merupakan hal langka di
negeri kita ini. Seperti slogan dan janji pada setiap kampanye pemilu pada
umumnya tak dilakukan dengan jujur, cuma cara manjur mengantongi suara pemilih
sebanyak-banyaknya. Dalam kaitan itulah, kita rakyat pemilih makin cerdas dalam
menentukan siapa kandidat yang mampu melayani kita dalam lima tahun ke depan.
Pilkada ini menjaring para kandidat yang bukan berdasarkan kesamaan
agama atau SARA, tapi berdasarkan program unggulan yang mengusung perubahan ke
arah lebih baik. Tanpa perubahan perilaku dan cara berpikir kita yang rasional
dan cerdas dalam pilkada DKI Jakarta ini, tak akan banyak perbaikan bangsa kita
ke depan.
“SUARA
KITA MENJADI PENENTU JAKARTA BERKUALITAS”
Komentar
Posting Komentar